SELAMAT DATANG DI http://aa-rief.blogspot.com/ SELAMA BERKUNJUNG JANGAN LUPA KOMEN IYYAA !!!! IKAN MAS YANG TIDAK BERWARNA EMAS | Aa-Rief All in here

Sabtu, 16 Februari 2013

IKAN MAS YANG TIDAK BERWARNA EMAS

IKAN MAS YANG TIDAK BERWARNA EMAS

Dalam sebuah rapat dinas di hotel bintang di kawasan Puncak, Jawa Barat, terhidang menu ikan goreng. Warna ikan itu hijau keabu-abuan dengan sirip kehitaman. Perutnya datar berwarna lebih terang, sementara punggungnya tinggi dan melengkung. Sepintas ikan goreng sepanjang itu 15 cm. dengan lebar sekitar 8 cm. itu tampak agak bongkok. Peserta rapat tampak menikmati lauk tersebut dengan lahap. Ada yang manikmatinya dengan cermat dan hanya mengambil dagingnya, sementara sirip, tulang dan kepalanya disisakan. Tetapi karena ikan itu tampak masih sangat muda dan digoreng kering, maka siripnya juga lunak, kepalanya pun renyah. Hingga banyak peserta rapat yang menyantap seluruh bagian ikan itu dengan nikmatnya, kecuali tulangnya. Di tengah acara makan siang tersebut, seorang peserta rapat bertanya, "Ikan apa sih ini kok empuk banget"?
Masyarakat awam, memang agak sulit membedakan ikan mas dan nila, dua jenis ikan yang paling banyak dibudidayakan saat ini. Sebab ikan mas strain punten dan majalaya, seperti yang terhidang di hotel itu, punggungnya tinggi, badan pendek dan warna sisiknya hijau kehitaman atau keabu-abuan. Sementara ikan nila yang sering diberi julukan mujair nila, justru ada yang berwarna kemerah-merahan (nila merah), hingga sulit dibedakan dengan ikan mas. Ketika petugas  restoran hotel menjelaskan bahwa yang dihidangkannya adalah ikan mas, maka sebagian besar peserta rapat heran. "Ikan mas kok tidak berwarna emas"? Sebab selama ini dalam bayangan banyak orang, ikan mas selalu bersisik kuning kemerahan seperti halnya warna emas. Bukan hijau kehitaman seperti warna ikan lele.
Ikan mas merupakan komoditas budidaya air tawar yang paling populer. Jenis yang kita budidayakan saat ini, sebenarnya merupakan hasil persilangan antara ikan tombro, (tambera mas = Cyprinus carpio) dengan ikan mas (Carrassius auratus). Ikan tombro berasal dari Eropa. Masuk ke Indonesia karena dibawa oleh bangsa kulit putih. Sementara ikan mas berasal dari daratan China dan datang ke Indonesia sejak adanya kontak dagang antara daratan China dengan kepulauan Nusantara. Ciri khas ikan tombro adalah adanya misai di mulutnya dan siripnya yang mirip rumbai. Selain sebagai ikan konsumsi, keturunan ikan tombro juga populer sebagai ikan hias maskoki. Sementara ikan mas selain menurunkan ikan konsumsi juga merupakan induk dari ikan koi.
Budidaya ikan mas sebelumnya hanya merupakan usaha keluarga di kolam (empang) yang di atasnya dibangun jamban (toilet). Sistem pemijahan dilakukan dengan kakaban (ijuk) yang dijepit bilah bambu dan ditaruh di kolam pemijahan. Ijuk berfungsi untuk tempat telur setelah dibuahi oleh induk jantan. Kakaban yang berisi telur kemudian dipindahkan ke kolam penetasan. Namun dengan diketemukannya strain-strain ikan mas unggul, misalnya punten dan majalaya yang warnanya gelap, diketemukan pula sistem pemijahan modern. Untuk mematangkan telur, induk betina disuntik larutan kelenjar hipofisa dan hormon HCG. Selanjutnya telur diurut keluar dan segera dicampur dengan sperma yang diambil dari induk jantan. Setelah terbuahi, telur ditaruh di akuarium penetasan yang dilengkapi pemanas (heater).
Anak ikan yang telah menetas, dipelihara di akuarium dan bak-bak pembesaran secara intensif. Ikan yang baru menetas (burayak) diberi pakan kuning telur yang dihancurkan. Selanjutnya burayak tersebut diberi pakan artemia, sebangsa udang mikro yang harus ditetaskan dan diternak terlebih dahulu (dikulturkan). Artemia merupakan pakan burayak paling baik, namun masih harus diimpor. Selain artemia, burayak juga bisa diberi cacing sutera dan kutu air. Kultur cacing sutera dan kutu air relatif lebih murah dibanding dengan artemia. Secara pelan-pelan burayak harus sudah mulai diberi pakan pelet halus berkadar protein tinggi. Pemeliharaan burayak ini bisa tetap dilakukan di akuarium, tetapi kebanyakan pembenih ikan mas memeliharanya di bak-bak kecil. Akuarium maupun bak-bak ini harus tetap dilengkapi aerator dan filter untuk sirkulasi air. Kecuali lokasi pembenihan ikan tersebut memang memiliki sumber air yang melimpah. Pemeliharaan burayak dilanjutkan sampai  mencapai ukuran kebul, yakni benih ikan ukuran sekitar 3 cm. Benih kebul ini biasanya terus dibesarkan lagi hingga menjadi putihan, yakni benih ukuran  6 sd. 8 cm. Dari putihan ini peternak ikan menggemukkannya menjadi ikan konsumsi ukuran 100 gram, 250 gram atau 0,5 kg.
Kemajuan teknologi budidaya ikan mas juga ditandai dengan diciptakannya kolam air deras dan karamba. Kolam air deras memungkinkan pemeliharaan ikan mas secara intensif dengan padat penebaran tinggi. Sebab dengan kolam air deras, maka suplai oksigen akan selalu terjamin. Arus air yang deras juga menuntut ikan untuk terus bergerak dan berebut pakan. Pemeliharaan dalam karamba jaring apung di waduk, sungai atau danau juga memungkinkan pemeliharaan secara intensif. Namun pemeliharaan dengan karamba jaring apung ini, rawan pencemaran serta bahaya keracunan limbah industri. Di waduk Saguling dan Cirata, Jawa Barat, beberapa kali terjadi kasus kematian ikan secara massal akibat keracunan limbah pabrik. Sementara di danau Toba, justru limbah kotoran ikan serta pakan yang tidak terkonsumsi dan mengendap di dasar danau yang mencemari parairan.
Perusahaan-perusahaan pakan ikan pun ikut pula mendukung percepatan pertumbuhan ikan mas konsumsi. Tahun-tahun 1980an, ikan mas konsumsi rata-rata berbobot 0,5 sd. 1 kg. per ekor. Secara tradisional, pembesaran ikan berbobot 100 gram menjadi 0,5 sd. 1 kg. memerlukan jangka waktu pemeliharaan satu tahun. Namun saat ini, ukuran ikan konsumsi justru mengecil. Paling besar, ikan mas konsumsi di pasar tradisional atau pasar swalayan berukuran 250 sd. 300 gram per ekor atau tiap kg. berisi 3 sd. 4 ekor ikan. Ikan mas yang dijadikan lauk rapat dinas di kawasan Puncak itu malahan hanya berbobot antara 80 sd. 100 gram per ekor. Biasanya, untuk keperluan lauk massal seperti ini, para pengelola hotel di kawasan Puncak sudah memiliki langganan pemasok ikan, yang mengambil langsung dari karamba jaring apung di waduk Cirata.  Ada pula yang disuplai oleh kolam-kolam ikan mas air deras di sekitar Cisarua, Bogor dan Sukabumi. Karenanya, kondisi ikan mas itu masih sangat segar, hingga ketika digoreng rasanya juga lezat.
Konsumen ikan mas di Thailand dan Taiwan malahan lebih ekstrim lagi. Di sana ikan mas sudah dikonsumsi ketika masih berupa benih ukuran 5 sd. 7 cm. Cara mengkonsumsinya dengan digoreng kering, seperti halnya masyarakat pedesaan kita mengkonsumsi ikan wader pari (Rasbora argyrotania), yang pernah hidup melimpah di perairan umum di Asia Tenggara. Sepintas, para pengunjung hotel dan restoran bintang akan mengira bahwa yang dikonsumsinya adalah ikan wader pari dan bukan anak ikan mas. Konsumen ikan mas ukuran besar, di atas 0,5 kg. saat ini hanya sebatas restoran ikan goreng dan bakar khas sunda. Selain itu ikan mas ukuran di atas 0,5 kg. juga masih tetap diperlukan untuk menu ikan pepes. Sebab ikan mas dengan ukuran di bawah 0,5 kg. tetap dianggap masih terlalu kecil untuk dihidangkan sebagai ikan pepes.
Beda dengan ikan nila maupun mujair, maka ikan mas harus dipasarkan dalam kondisi hidup. Meskipun akhirnya si pembeli di pasar swalayan maupun pasar tradisional, akan meminta penjualnya untuk memotong dan membersihkan ikan itu langsung di lokasi penjualan. Sama halnya dengan di restoran-restoran ikan goreng, konsumen harus melihat bahwa ikannya masih hidup dan segar ketika akan digoreng dan dihidangkan. Karena sifat pasarnya demikian, maka distribusi ikan mas memerlukan wadah berisi air dengan oksigen. Terutama untuk pengiriman jarak jauh. Untuk pengiriman jarak dekat, cukup dengan aerator. Perlakuan aerator ini sama halnya dengan ikan mas yang didisplai di pasar-pasar tardisional. Di pasar tradisional pun, ikan mas dan lele juga dipasarkan dalam kondisi hidup. Beda dengan nila dan patin yang dijual sudah dalam kondisi mati. 
Meskipun budidaya ikan mas sudah berkembang sejak lama di Indonesia, namun saat ini pamornya kalah dengan ikan nila. Namun populasi ikan mas masih tetap lebih besar dibanding ikan nila. Konsumen utama nila adalah warung padang. Sementara lele banyak dipasarkan oleh warung pecel lele di kakilima. Ikan mas ukuran 100 gram saat ini justru banyak diserap secara massal oleh hotel, restoran, asrama dan rumahsakit untuk lauk murah meriah, karena harganya yang relatif murah. Penanganan massal ikan mas juga relatif mudah dibandingkan dengan nila, karena siripnya tidak berduri tajam. Pasar massal inilah yang menyebabkan agribisnis ikan mas, sampai saat ini tetap menduduki ranking tertinggi dibandingan dengan lele dan nila. Teknologi pemberian hormon Methyl Testosterone untuk menciptakan ikan mas jantan juga dilakukan, seperti halnya pada budidaya nila gift. Sebab rongga perut ikan mas jantan relatif kecil dibanding yang betina. Pertumbuhan ikan jantan pun jauh lebih pesat dari betinanya.
Saat ini harga benih ikan mas ukuran 3 cm. (benih kebul), Rp paling tinggi 150,- per ekor. Untuk mencapai bobot 100 gram per ekor, diperlukan jangka waktu pemeliharaan hanya satu bulan. Biaya pakan, penyusutan kandang/benih, tenaga kerja dan beban produksi sekitar Rp 400,- per ekor.  Harga ikan mas 100 gram di tingkat peternak Rp 7.000,- per kg. (isi 10 ekor). Keuntungan peternak dalam jangka waktu 1 bulan tersebut mencapai Rp 1.500,-  per kg. Dalam praktek, satu kolam atau karamba ikan mas, tidak seluruhnya bisa dipanen dengan ukuran 100 gram. Banyak yang setelah dipelihara selama satu bulan ukurannya masih di bawah 100 gram. Namun tak jarang ada beberapa ekor yang bobotnya sudah melambung sampai lebih dari 200 gram. Itulah sebabnya panen ikan mas dari kolam maupun karamba dilakukan secara selektif dan bertahap. Ikan-ikan yang kelewat bongsor, biasanya justru terus dipelihara agar mencapai bobot 250 gram sampai dengan 0,5 kg. per ekor.

1 komentar:

  1. Thanks for info, jangan lupa kunjungi kami http://bit.ly/2vplrBi

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.